Kisah Sukses Kripik Maicih


Dengan keterbatasan dana reza nurhilman membangun usaha, pemuda 23 tahun ini meraih sukses tak terkira berkat promosi melalui dunia maya. Ia sangat jeli memanfaatkan situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter sebagai media pemasaran.Reza nurhilman adalah pemilik usaha keripik pedas 'Maicih', yang sempat membuat heboh kawula muda kota kembang.

Hanya setahun setelah meluncurkan usahanya di Twitter, ia mampu mengantongi omzet penjualan Rp4 miliar per bulan. Berangkat dengan modal sekitar Rp15 juta, ia membuat permainan yang memancing penasaran Facebookers dan Tweeps. Ia merancang lokasi penjualan berpindah-pindah setiap hari, yang hanya dapat diketahui dengan melihat status Facebook (#maicih) atau Tweet Maicih (@infomaicih)

Kreativitas dan inovasinya dalam mengolah keripik singkong ternyata mampu menaikkan derajat camilan tersebut menjadi makanan yang punya nilai jual lebih, dan menjadi produk bergengsi yang sukses menembus pasar internasional. Keberhasilan pria berusia 24 tahun ini dalam menggawangi Keripik Maicih dari nol sampai menembus omzet miliaran rupiah per bulan merupakan bukti bahwa kreativitas dan kerja keras merupakan kunci kesuksesan usaha.

Nama brand Maicih diambil dari kisah masa lalu yang selalu teringat olehnya, “Maicih itu terlahir waktu saya masih kecil. Biasanya, kalau saya dibawa mama ke pasar, suka ada ibu-ibu tua pake ciput dengan baju alakadarnya. Setiap belanja dia ngeluarin dompet, bonus dari toko emas yang ada resletingnya untuk masukin receh. Mama saya bilangnya itu dompet Maicih”.

Awalnya, pemasaran Maicih melalui teman-teman saja yang bertestimoni di media sosial twitter. Kemudian ia lebih fokus untuk memasarkannya. “Mereka yang sudah merasakan Maicih punya testimoni masing-masing. Jadi, saya tidak usah capek-capek promosi. Dengan Twitter, promosi seperti bola salju, terus membesar.” Ujarnya. Alasan pemasaran hanya melalui Twitter dan Facebook. Selain gratis, promosi di Twitter bisa menjadi gong karena kekuatan marketingnya dibuat orang-orang yang beli Maicih. Orang yang belum tahu Maicih akan bertanya dan mereka yang nge-tweet soal Maicih akan dengan antusias menjelaskan.

Strategi itu sukses. Keripiknya menjadi barang buruan. Konsumen harus mengantre berjam-jam demi mendapatkan keripik superpedas itu. Bahkan, antrean pernah memanjang hingga satu kilometer. Mereka rela mengantre walau hujan badai. Di setiap kota juga ngantre. Sekarang Jenderal-jenderal punya fans dan komunitasnya masing-masing.

Prinsip kelangkaan yang diterapkan MAICIH (Mak Icih), sebenarnya merupakan strategi persuasi yang sudah jamak. Namun anak muda ini pantas diacungi jempol, karena secara cerdik mengemasnya dalam kemasan gaya hidup teknologi masa kini. Komunikasi words of mouth, tersambung dengan jejaring sosial di internet, sesuai dengan sasaran pasarnya.

Taktik persuasi ini berrlandaskan prinsip sebuah produk yang langka akan lebih bernilai, karena orang semakin penasaran untuk memiliknya. Pengiklan menggunakan taktik ini untuk mendorong orang segera membeli dengan menggunakan kata-kata seperti persediaan terbatas, “kami tidak mempunyai stok lagi setelah hari ini”.

Mengapa orang penasaran? Teori psychological reactance mengatakan, manusia beraksi terhadap segala upaya yang dapat mengurangi kebebasan atau pilihan mereka. Ketika kebebasan dan pilihan itu menyempit, pilihan itu lebih diinginkan. Nah, tatkala produknya langaka, mereka menjadi lebih bernilai di benak konsumen. Tentu saja, daya tarik mengenai kelangkaan ini tidak selalu efektif. Kelangkaan Magnum, terlepas disengaja atau tidak, hanyalah bersifat sementara. Sekedar “menimbun” keinginan para wanita dewasa yang menjadi sasarannya, agar menggelembung. Setelah melewati masa tertentu, Magnum segera tersedia di sebagian besar kotak pendingin Walls.