Wira Usaha. Powered by Blogger.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Branchless Banking – Gambaran VSI di Masa Depan

JAKARTA, KOMPAS.com – Layanan perbankan selama ini hanya menjangkau sebagian penduduk Indonesia. Sementara masih banyak penduduk yang belum tersentuh layanan perbankan, apalagi mereka yang tinggal di daerah pelosok yang kondisi geografisnya sulit diakses.
Data lembaga riset Sharing Vision dari Bandung mencatat, sebanyak 68 persen dari 246,9 juta penduduk Indonesia belum memiliki rekening bank. Kemudian, sebanyak 80 persen penduduk yang berusia 15 tahun ke atas, belum tersentuh layanan perbankan. Dan, ada 52 persen rumah tangga yang belum memiliki simpanan di lembaga keuangan.
Dibutuhkan suatu terobosan agar layanan perbankan dapat menjangkau lebih banyak penduduk, salah satunya adalah branchless banking atau bank tanpa kantor cabang.
Chairman Sharing Vision Dimitri Mahayana, mengatakan, branchless banking merupakan salah satu strategi distribusi perbankan yang memberi layanan keuangan tanpa bergantung pada keberadaan kantor cabang bank.
“Tapi ini bukan sekadar strategi jalur distribusi baru, ini bisa jadi revolusi ekonomi dan sarana mensejahterakan rakyat,” tegasnya dalam lokakarya mengenai Branchless Banking di Bandung, Sabtu (28/9/2013).
Branchless banking menjadi solusi untuk menjangkau masyarakat yang tinggal di daerah pelosok, dengan berbagai kondisi geografis. Di Indonesia, banyak daerah yang sulit diakses dengan kendaraan bermotor. Tak sedikit masyarakat yang harus menempuh perjalanan selama beberapa jam atau berhari-hari, untuk mendatangi kantor cabang sebuah bank.
“Teknologi untuk branchless banking itu mudah sekali dan bisa digunakan orang awam. Peluang pasarnya sangat besar, karena layanan perbankan seperti inilah yang dibutuhkan masyarakat yang berada di pelosok,” terang Dimitri.
Teknologi mobile dan keberadaan agen
Branchless banking merupakan kombinasi antara agent banking dan mobile banking. Agent bankingadalah kegiatan usaha non-bank, termasuk agen keliling, atau warung dan toko yang membantu bank memberikan layanan perbankan. Sedangkan mobile banking adalah akses layanan perbankan melalui telepon seluler (ponsel).
Masyarakat yang menggunakan branchless banking dapat memanfaatkan teknologi perangkatmobile, dimulai dari ponsel fitur. “Semua teknologi yang dibutuhkan untuk branchless banking sudah ada sejak 12 tahun lalu di Indonesia. Kita bisa memakai SMS, USSD, aplikasi lewat jalur internet, sampai alat Electronic Data Capture (EDC),” kata Dimitri.
Komponen penting lainnya adalah seorang agen. Jika ia seorang agen keliling, ia diharuskan pro aktif melakukan “jemput bola” ke rumah masyarakat untuk membantu membuka rekening, transfer dana, setor ataupun tarik tabungan. Agen kemudian menyetor uang ke master agen, atau langsung ke kantor cabang bank yang lokasi berada jauh dari pemukiman warga.
Branchless banking dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi mereka yang ingin menjadi agen. Namun, di sisi lain, agen juga termasuk salah satu risiko besar dalam branchless banking karena mereka harus membangun kepercayaan kepada nasabah. Menurut Dimitri, agen haruslah seseorang yang dapat dipercaya dan dikenal oleh masyarakat.
“Di Kenya, negara yang sukses membangun branchless banking, kebanyakan agen atau master agen adalah orang yang dapat dipercaya, seperti pemuka agama atau kepala suku,” jelas Dimitri.
Satu hal penting lainnya dalam branchless banking, adalah keberadaan pusat layanan nasabah. Bank yang memberi layanan branchless banking harus menyediakan aplikasi atau layanan secara transparan agar nasabah dapat mengetahui saldo tabungan, status transaksi, sampai melayani komplain nasabah.
Menurut survei yang dilakukan Sharing Vision, sebanyak 70 persen orang yang tidak memiliki rekening bank, mengaku tertarik untuk menabung, meminjam, dan mentransfer uang melalui layananbranchless banking.
Kenya dan Bangladesh
Salah satu negara yang sukses menjalankan branchless banking adalah Kenya, melalui bank yang bernama M-Pesa. Layanan ini adalah hasil kerjasama antara operator seluler dan perbankan di Kenya, antara lain Safaricom dan Vodacom.
Di Kenya, nilai transaksi harian branchless banking mencapai 50 juta dollar AS atau sekitar Rp 575 miliar per hari dengan pendapatan tahunan Rp 2,83 triliun pada 2013. Jumlah agen keliling mencapai 65.547 orang, dan mayoritas transaksi dijalankan melalui SMS.
M-Pesa memungkinkan nasabah melakukan transfer dana via SMS lalu proses penarikan dilakukan melalui agen keliling dengan sistem “jemput bola” ke pelosok, yang beberapa masih menggunakan sepeda.
Masyarakat juga bisa menyetor tabungan ke agen tersebut hanya dengan mendaftar untuk memilikiuser ID di M-Pesa. Dari akun tersebut, seluruh proses transaksi dijalankan.
Sementara di Bangladesh, bank yang sukses memberi layanan branchless banking adalah bKash. Jumlah agennya ada 30.000 orang guna melayani 2,2 juta pengguna bKash. Dengan biaya 0,2 dollar AS atau sekitar Rp 2.300, nasabah bisa transfer via SMS untuk kemudian ditindaklanjuti oleh agen keliling.
Dimitri mengatakan, bKash adalah jaringan pihak ketiga yang bekerja sama dengan banyak operator seluler dan bank di Bangladesh. “Sebanyak 95 persen pengguna ponsel di Bangladesh adalah pengguna bKash,” tuturnya.
Menanti sinergi perusahaan telekomunikasi-perbankan, dan regulasi
Untuk dapat memberi layanan branchless banking yang optimal, Dimitri berpendapat, harus terjalin kerjasama antara perusahaan telekomunikasi dengan perusahaan perbankan. Menurutnya, sejauh ini sudah ada upaya dari perusahaan perbankan dan telekomunikasi, namun kurang sungguh-sungguh dan cenderung berjalan masing-masing.
“Mungkin antara perbankan dengan telekomunikasi bisa membentuk perusahaan patungan untuk memberi layanan branchless banking ini. Semuanya saling membutuhkan, dan harus bersinergi untuk membentuk ekosistem,” ujarnya.
Beberapa perusahaan menganggap bahwa branchless banking hanyalah saluran distribusi baru. Dimitri membantah anggapan ini, ia mengatakan layanan perbankan ini akan menjadi revolusi ekonomi dari “wong cilik.”
Saat ini beberapa bank telah melakukan program uji coba sistem branchless banking, termasuk bank pembangunan daerah, bank syariah, hingga perusahaan telekomunikasi.
Namun, mereka masih menunggu regulasi dari Bank Indonesia yang terus menerus molor. Dimitri berpendapat, para pemain yang tertarik dengan branchless banking tak berani melangkah aturan main yang jelas. “Jika Bank Indonesia cepat merealisasikannya, dan ada sinergi dari berbagai pihak,branchless banking akan booming di 2014,” tutupnya.
Sumber : Kompas .com

Peluang Bisnis PPOB

PPOB atau Payment Point Online Bank adalah istilah yang sering digunakan oleh penyedia jasa pembayaran secara online terhubung dengan internet yang menggunakan jasa bank. Selain fungsi utama sebagai tempat penyimpanan uang/tabungann dan menyalurkan dana kredit, bank juga melayani pembayaran tagihan PLN, Telkom, Air PDAM, Leasing, dan sebagainya.
Sekarang ini layanan PPOB dapat dengan mudah ditemukan di setiap daerah. Bisnis loket PPOB memberi kemudahan kepada para pelanggan (customer) untuk membayar tagihan, biaya langganan, atau kewajiban-kewajiban lainnya tanpa harus jauh-jauh pergi ke perusahaan terkait.
Meskipun telah sangat mengefisienkan proses pembayaran, trend bisnis loket PPOB semakin lama akan semakin tergantikan oleh sistem POP (Personal Online Payment) dimana pelanggan tidak perlu lagi keluar rumah untuk membayarkan kewajibannya. Pembayaran dapat diselesaikan hanya melalui handphone miliknya. Pelanggan cukup menjalankan aplikasi Veritra Pay dan memilih menu pembayaran yang sesuai dengan kebutuhannya. Tidak hanya terbatas pada pembayaran kewajiban pribadi, pelanggan juga bisa membayarkan tagihan orang lain. Dengan kata lain Veritra Pay bisa menjadi alat bisnis yang canggih untuk Anda.

VeritraPay

VeritraPay adalah aplikasi Personal Online Payment dimana setiap mitra yang terverifikasi dapat melakukan pembayaran-pembayaran berupa:
  • Pembayaran Kebutuhan
    1. Kewajiban Bulanan (Listrik, Jastel, Finance/KKB, PDAM, TV Berbayar, Internet, Asuransi, Kartu Kredit, dll)*
    2. Kebutuhan Berkala (Pengisian Pulsa, top up Smart Card seperti ; BCA Flash, E-Toll Card, dll)*
    3. Voucher Game Online
    4. LifeStyle (tiket konser, tiket nonton)**
    5. Tiket Perjalanan (tiket kereta, tiket bus, tiket travel, tiket pesawat, dll)**
    6. Keagamaan (zizwaf, infaq, dll)**
    7. Pendidikan (spp, pendaftaran kuliah, dll)**
    8. Pajak (BPHTB, PBB, dll)**
  • Rekan (Rekening Antara / escrow)**
  • Media Jual Beli Online (WebStore)**

Dengan Veritra Pay Anda tidak perlu lagi keluar rumah untuk melakukan pembayaran-pembayaran. Semua layanan yang memanjakan Anda ini dapat dinikmati secara online dengan mudah, cepat, nyaman, aman dan murah.
Berbagai kemudahan yang bisa Anda dapatkan dengan menggunakan aplikasi VeritraPay:
  1. Channel pembayaran yang bermacam-macam (VeritraPay on Web, VeritraPay SMS, VeritraPay on Mobile Applications (Android, Blackberry, iPhone) dan VeritraPay YM dengan akun yang saling terintegrasi, 1 saldo dapat digunakan di semua channel pembayaran).
  2. Aplikasi sudah sangat teruji kehandalannya.
  3. Anda tidak perlu lagi repot-repot keluar rumah jika hendak melakukan pembayaran tagihan Anda.
  4. Anda dapat membayarkan tagihan teman-teman Anda dimana pun mereka berada.
  5. Team support VeritraPay yang ramah dan profesional siap membantu dan melayani Anda jika Anda menemui kesulitan.
  6. Anda dapat memanfaatkan VeritraPay untuk memulai bisnis PPOB, pembayaran dapat dilakukan dimanapun Anda berada dan kapan saja.

Peluang Usaha MLM VSI Ust. Yusuf Mansur



VSI berawal dari keprihatinan Yusuf Mansur akan banyaknya asset negara yang sedikit demi sedikit diambil alih oleh kapitalis asing, terlebih dengan banyaknya toko kelontong dan toko tradisional yang mulai tergusur oleh toko retail modern yang mulai menjamur dimana-mana. Rakyat kecil sedikit demi sedikit kehilangan mata pencaharian. Yusuf Mansur memiliki gagasan untuk membuat software penjualan pulsa dan all-payment gateaway yang lazim dimiliki oleh toko retail modern yang tidak dimiliki oleh toko kelontong tradisional. VSI sendiri bukanlah money game.

VSI adalah MLM berbasis Syariah. Beranjak dari penggalian potensi masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan “gadget” mutakhir, lahirlah Ring Cash pada tahun 2009 sebagai wahana yang menjembatani kemudahan pembelajaan dan pembayaran semua kebutuhan masyarakat dengan menggunakan teknologi semua provider telepon seluler.

Sejalan dengan itu, pada tahun 2013 berkembang gagasan cemerlang seorang Ustadz Yusuf Mansur yang berawal dari keprihatinan atas banyaknya aset negara yang sedikit demi sedikit diambil alih oleh kapitalis asing, yaitu membangun komunitas gotong royong (multi kultural) melalui pemanfaatan perangkat lunak/teknologi yang diinstalasi pada handphone/smartphone dengan fungsi sebagai alat pembelanjaan/pembayaran multiguna (all-payment gateway) dalam komunitas (masyarakat) serta melibatkan toko-toko kelontong tradisional, dan lain-lain.

Berdasarkan kedua latar belakang historikal yang pada prinsipnya bertujuan sama, lahirlah V-pay sebagai perpaduan harmonis dari gagasan cermerlang seorang Ustadz Yusuf Mansur dan tekbologi Ring Cash.

Dengan perangkat lunak V-pay ini, semua mitra dapat melakukan pembelanjaan dan pembayaran semua kebutuhan harian, bulanan bahkan tahunan, baik berupa kebutuhan primer maupun sekunder.

VISI
Menjadi perusahaan yang memiliki perangkat lunak / teknologi yang mampu menjangkau seluruh lapisan komunitas.

MISI
Membangun komunitas yang besar, melalui pemasaran perangkat lunak / teknologi V-Pay.


Wira Usaha Bagi Pelajar

Sebenarnya, apa yang penyebab lulusan SMA dan SMK banyak yang menganggur? Selain karena rendahnya jumlah lulusan SMA dan SMK yang melanjutkan ke perguruan tinggi, penyebab lainnya adalah ketidakmampuan para lulusan SMA dan SMK tersebut untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Penyebab lainnya, karena orientasi pendidikan mereka cenderung untuk membentuk SDM yang mencari pekerjaan, bukan sebagai pencipta pekerjaan, sehingga sebagian besar pelajar di Indonesia berprinsip belajar untuk bekerja, bukan untuk menciptakan sebuah usaha baru. Apabila orientasi pendidikan tersebut tetap dipertahankan, maka jumlah pertumbuhan pengangguran di Indonesia bisa akan terus meningkat tiap tahunnya, seiring dengan semakin banyaknya lulusan SMA dan SMK yang tidak bekerja.



Salah satu solusi konkret untuk mengatasi ini adalah pengajaran pendidikan kewirausahaan di lingkungan sekolah. Disamping mengajarkan siswa untuk membuka usaha dan mencari penghasilan sendiri, pendidikan kewirausahaan atau yang dikenal juga sebagai pendidikan entrepreneurship juga bertujuan untuk menanamkan jiwa kewirausahaan sejak dini. Hal ini diperlukan untuk membekali anak didik dengan keterampilan yang berguna untuk membuka usaha mandiri setelah lulus sekolah.

Berikut ini contoh bentuk wira usaha bagi para pelajar:

Les Privat
Khusus bagi siswa SMA dapat membuka lest privat untuk bidang pendidikan yang dibutuhkan untuk tingkat SD dan SMP.

Penulis Lepas
Memiliki keahlian menulis bisa menghasilkan juga lho. Anda bisa jadi penulis lepas untuk majalah atau koran harian. Satu lagi anda bisa buat blog, nah di blog tersebut bisa ditempelin iklan dari google adsense.

Jual Pulsa
Untuk bisnis yang satu ini sepertinya tidak perlu diulas lagi, sebab tentu sudah banyak pelajar yang menjalankan usaha ini.

Jual Beli Buku Loak dan Jasa Photocopy
Pelajar bisa memanfaatkan buku-buku pelajaran yang sudah tidak tepakai lagi untuk dijual ke adik-adik kelas. Jika mau, ajak kakak kelas untuk ikut berkontribusi sehingga buku-buku dari kakak kelas pun bisa dijual ke teman-teman seangkatan. Atau bisa juga lewat jasa photocopy dimana teman-teman pelajar bisa mendapatkan keuntungan karena membantu teman-teman lain mendapatkan tempat photocopy dengan mudah dan murah.

Jasa Design
Pelajar-pelajar yang kreatif dan hobi design bisa menjual designnya kepada orang lain. Design-design tersebut dapat diciptakan melalui pin, stiker, poster, kalender, ID-card, wesite, template, dan sebagainya. Apalagi dengan adanya kecanggihan teknologi, bisnis jasa design akan semakin mudah.